Lanjutkan Pemulihan pada Semester I 2026, BUMA International Group Catat Pertumbuhan EBITDA Berkat Keunggulan Operasional dan Pengelolaan Biaya Struktural

31 Juli 2026

PT BUMA Internasional Grup Tbk (IDX: DOID) (“BUMA International Group” atau “Grup”) hari ini mengumumkan kinerja keuangan dan operasional konsolidasi untuk periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2026 (1H26). Mencerminkan inisiatif perbaikan operasional yang telah dijalankan sejak 2025, Grup membukukan pertumbuhan EBITDA pada 1H26 di tengah penurunan pendapatan dan biaya nonberulang (one-off costs). Pencapaian ini membuktikan bahwa kemajuan yang dibangun sepanjang 2025 dan berlanjut hingga 1Q26 terus menunjukkan hasil yang semakin nyata.

Kinerja inti bisnis Grup terus tumbuh, didukung oleh klien-klien Tier-1 utama berjangka panjang (anchor clients), meskipun sejumlah kontrak lainnya telah berakhir. Portofolio aktif Grup kini beroperasi dengan lebih efisien dan menghasilkan margin EBITDA yang lebih kuat melalui optimalisasi tenaga kerja secara berkelanjutan, alokasi modal yang disiplin, serta penguatan strategi pengelolaan aset sehingga berhasil meningkatkan keandalan armada.

Ikhtisar Kinerja Operasional dan Biaya pada 2Q26

Operasional Grup di Indonesia mencatatkan peningkatan terukur pada aspek keandalan, utilisasi, dan produktivitas pada 2Q26. Ketersediaan fisik (physical availability) membaik secara kuartalan (QoQ) dan dibandingkan Kuartal II 2025 (2Q25), dengan lebih dari separuh ketersediaan armada kini berada di tingkat 90% atau lebih tinggi. Waktu henti (downtime) turun 11% QoQ dan 22% versus 2Q25, seiring dengan kepatuhan pemeliharaan terencana (scheduled maintenance compliance) yang hampir berlipat ganda menjadi 46% dari 25% pada 2Q25. Kualitas pemeliharaan juga membaik, ditandai kemampuan peralatan untuk beroperasi lebih lama sebelum mengalami gangguan (mean time between stops atau MTBS meningkat 22% QoQ dan 20% versus 2Q25), serta waktu perbaikan juga makin singkat, dengan mean time to repair (MTTR) turun sebesar 18% QoQ dan 6% versus 2Q25 menjadi 7,5 jam.

Utilisasi juga membaik, seiring dengan meningkatnya UA (use of availability) pada 2Q26. Berpadu dengan peningkatan ketersediaan (availability), hal ini mendorong kenaikan jam kerja peralatan per unit sebesar 17% QoQ, sehingga tingkat operasi (run rate) armada kembali berada pada level yang secara umum sejalan dengan 2Q25. Peningkatan tersebut didukung oleh penurunan waktu nonproduktif, di mana jam nonproduktif per unit turun 8% QoQ dan 6% dibandingkan 2Q25, seiring kondisi musim kemarau yang mengurangi waktu tunggu akibat hujan dan jalan licin (rain/slippery-condition standby), serta penanganan beberapa kendala di area pembuangan, jalan angkut, dan kondisi geologi. Dampaknya terlihat pada produktivitas yang lebih tinggi, dengan bank cubic meter (BCM) per jam naik sebesar 2% versus 2Q25.

Di lokasi tambang terbesar Grup di Indonesia, cycle time tercatat 4% lebih singkat dibandingkan 2Q25, didorong oleh kondisi permukaan jalan yang lebih baik serta berkurangnya waktu antre di area pemuatan dan persimpangan, seiring pengelolaan lalu lintas dan koordinasi dispatch yang lebih efektif. Didukung oleh berbagai perbaikan tersebut, total produksi Grup di Indonesia dan Australia meningkat. Volume pengupasan lapisan tanah penutup (overburden removal) naik 10% QoQ menjadi 97 juta bank cubic meters (BCM), sementara produksi batu bara meningkat 20% QoQ menjadi 17 juta ton (MT).

Biaya unit per BCM1 naik 23% dibandingkan 2Q25 dan 10% QoQ. Kenaikan ini didorong oleh naiknya harga bahan bakar sebesar 29% selama tahun berjalan (YTD), bukan oleh peningkatan konsumsi. Biaya bahan bakar per BCM naik 36% dibandingkan 2Q25 dan 61% QoQ, yang dipicu oleh faktor harga. Di sisi lain, konsumsi bahan bakar per BCM turun 7% dibandingkan 2Q25 dan 4% QoQ, karena armada membakar lebih sedikit bahan bakar untuk memindahkan volume yang sama, berkat perbaikan kondisi jalan angkut dan perilaku berkendara yang lebih baik melalui pemantauan yang lebih ketat.

Dua komponen biaya yang berada dalam kendali operasional menunjukkan perkembangan yang positif bagi Grup. Biaya tenaga kerja per BCM2 turun 7% dibandingkan 2Q25 dan 13% QoQ, mencerminkan manfaat run-rate dari program efisiensi dan rasionalisasi tenaga kerja yang telah diselesaikan sepanjang 2025. Biaya perbaikan dan pemeliharaan (repair and maintenance) per BCM naik 11% dibandingkan 2Q25 tetapi turun 9% QoQ, seiring dengan normalisasi pengeluaran pemeliharaan yang telah dialokasikan lebih awal pada Kuartal I. Dampak positifnya terhadap keandalan armada terus terlihat melalui peningkatan ketersediaan unit di 2Q26.

Ikhtisar Kinerja pada 1H2026 

Berakhirnya kontrak di site Binungan milik Berau Coal dan site IBP milik Resource Alam Indonesia di Indonesia, serta site Burton milik Bowen Coking Coal di Australia, disertai ramp-down di sejumlah operasi lainnya, menyebabkan total volume overburden removal tercatat sebesar 186 MBCM, turun 11% YoY, total produksi batu bara sebesar 32 MT, turun 16% YoY, serta penurunan pendapatan sebesar 5% YoY menjadi US$693 juta pada 1H26. Di luar site yang kontraknya telah berakhir atau mengalami ramp-down tersebut, operasi inti Grup tumbuh sekitar 9% YoY pada overburden removal dan 4% YoY pada produksi batu bara, didukung oleh peningkatan keandalan armada serta kondisi cuaca yang lebih kering, dengan penurunan jam hujan di Indonesia sebesar 10% YoY dan jumlah hari hujan di Australia sebesar 4% YoY. Average selling price (ASP) jasa kontraktor pertambangan meningkat 8% YoY dibandingkan 1H25, didorong oleh kenaikan pada kontrak rise-and-fall maupun tier-price.

EBITDA 1H26 tercatat sebesar US$69 juta, naik 8% YoY dari US$64 juta. Peningkatan ini berhasil dicapai meskipun pendapatan tercatat lebih rendah, yang mencerminkan pemulihan margin serta peningkatan efisiensi biaya di seluruh lini bisnis. Jika tidak memperhitungkan dampak kenaikan harga bahan bakar, EBITDA akan mendekati US$78 juta, yang menunjukkan bahwa kemajuan operasional sebagian tertutupi oleh dinamika biaya yang di luar kendali Grup.

Grup mencatatkan rugi bersih sebesar US$50 juta, menyusut 37% dari US$80 juta pada 1H25, mencerminkan pemulihan EBITDA serta adanya dampak positif dari faktor-faktor non-operasional. Faktor-faktor tersebut meliputi keuntungan sebesar US$12 juta dari penjualan aset lahan milik Atlantic Carbon Group, Inc. (ACG), penurunan depresiasi dan amortisasi sebesar US$19,3 juta akibat berkurangnya basis aset yang dapat disusutkan setelah pelepasan dan penurunan nilai aset, serta peningkatan keuntungan selisih kurs bersih sebesar US$11 juta. Dampak positif tersebut sebagian diimbangi oleh dampak negatif sebesar US$14,5 juta terkait investasi Grup di 29Metals.

Belanja modal tercatat sebesar US$37 juta di 1H26, turun 67% dari US$111 juta di 1H25. Efisiensi belanja modal meningkat melalui optimalisasi armada dan pengalihan aset dari site yang telah berhenti beroperasi. Sebagian besar belanja modal tahun ini dialokasikan untuk kegiatan pemeliharaan guna menjaga keandalan armada dan mendukung keberlanjutan operasional. Arus kas bebas tercatat positif sebesar US$39 juta, meningkat signifikan dari US$5 juta pada 1H25, didorong oleh pemulihan EBITDA serta penurunan belanja modal. Kinerja 1H26 ini juga mencerminkan dua transaksi nonberulang pada 1Q26 yang saling mengimbangi, yaitu arus kas keluar investasi sebesar US$29 juta terkait 29Metals dan penerimaan sebesar US$17 juta dari penjualan aset lahan ACG. Di 2Q26, arus kas bebas yang telah ternormalisasi mencapai US$37 juta, berkat disiplin belanja modal dan tidak adanya pengeluaran investasi.

Iwan Fuad Salim, Direktur BUMA International Group, mengatakan, “Peningkatan EBITDA, perbaikan margin, dan penguatan arus kas bebas menunjukkan bahwa berbagai langkah yang telah kami jalankan selama setahun terakhir di seluruh area operasional, optimalisasi tenaga kerja, dan pemeliharaan, telah memberikan hasil, bahkan di tengah penurunan pendapatan dan lonjakan harga bahan bakar yang signifikan. Kemajuan tersebut semakin menguat sepanjang kuartal kedua, ditandai dengan keandalan armada yang lebih baik, produktivitas yang lebih tinggi, serta peningkatan produksi. Memasuki semester kedua, prioritas kami adalah melanjutkan momentum operasional ini, menjaga disiplin biaya dan modal, serta mengelola eksposur harga bahan bakar seiring upaya kami memperkuat perolehan arus kas.”

Ikhtisar Kinerja Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG)

Intensitas emisi turun 4% dibandingkan 1Q26, dengan penurunan masing-masing sebesar 6% dan 7% di dua lokasi operasional terbesar Grup di Indonesia. Sementara itu, pendapatan dari batu bara nontermal menyumbang sebesar 20% dari total pendapatan Grup pada 1H26.

Selain mencatat kemajuan dalam aspek lingkungan, PT BISA Ruang Nuswantara (BIRU), anak perusahaan dan social impact arm Grup yang berfokus pada pendidikan vokasi, memperluas akses bagi pemuda Indonesia untuk bekerja sebagai Specified Skilled Worker di Jepang. Melalui kemitraan dengan lembaga penempatan tenaga kerja internasional, program pelatihan dan sertifikasi BIRU kini terhubung dengan proses penempatan kerja yang dikelola oleh mitra.


1Di luar biaya pesangon
2Di luar biaya pesangon